dulu aku kira anganku terlalu jauh, terutama anganku tentang kamu. aku pikir kamu tak tersentuh. aku ini transparan, bening, tak terlihat jika kamu memandangku sekilas. ulurkan tanganmu dan rasakanlah, setelahnya kamu dapat tahu aku ada.
mungkin aku yang tidak peka, awalnya aku mengutuk-ngutuk mengapa kamu tidak sadar di sini aku berdiri. sekuat tenaga ku tahan nafasku agar wajahku memerah, syukur-syukur tidak membiru. aku ingin kamu melihat warnaku. aku mau berwarna, tidak bening, sehingga kamu sadar ada aku di manapun kamu berjalan.
hampir mati rasanya aku menahan nafas, tapi untung kamu berjalan ke arahku. ku hirup udara yang panjang, ku lepaskan lagi. kamu datang dan dengan gampangnya berkata, aku tahu ada kamu tak usahlah begitu aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menghampirimu. kalimat itu menamparku sekaligus membuatku lega.
haruskah ku ulangi kalimat pertama? dulu aku kira anganku terlalu jauh. itu dulu, tidak sekarang. kamu dan aku berjalan berdampingan. kamu selalu tau aku berwarna. begitu pula aku begitu mengerti warnamu. masih perlukah aku mengutuk-ngutuk kamu? masih haruskah aku menahan nafas agar menjaga diriku agar tidak kehilangan warnanya? semua itu aku tahu, tidak perlu. benar-benar tidak perlu, asal kamu terus mengeratkan genggamanmu pada tanganku, membuatku yakin aku tidak lagi transparan di matamu apalagi semu.
