RSS Feed

Esai Psikologi Sosial

Posted on

KEKERASAN DALAM BERPACARAN, HANYA SOAL WAKTU

Laras Sekar Melati, 1006664073

Sering kita melihat belakangan ini – pada berita-berita kriminal atau infotanment – kasus-kasus mengenai kekerasan dalam berpacaran  yang merebak terjadi pada pasangan kekasih. Atau mungkin di antara kita ada yang pernah melihat orang-orang terdekat, bahkan dirinya sendiri mengalami kekerasan dalam berpacaran yang sekarang kerap disingkat menjadi KDP. Salah satu kasus yang baru-baru ini terjadi adalah kasus yang menimpa seorang mahasiswi bernama Leni Oktavia yang dituntut hukuman penjara selama 4 bulan. Padahal, tuduhan jaksa yang menyatakan dirinya menyiram air panas kepada mantan pacarnya adalah semata-mata karena alasan pembelaan diri atas perbuatan tidak senonoh pacarnya. Ia telah berpacaran selama 2 tahun dan ia cukup sering mendapatkan tindak kekerasan dari pacarnya, seperti ditampar, dijambak dan dicekik (detiknews.com).

Kasus lainnya adalah yang pernah terjadi pada seorang penyanyi internasional, Rihanna. Ia mengalami kekerasan yang dilakukan oleh kekasihnya, Chris Brown, pada suatu malam saat mereka dalam perjalanan pulang dari sebuah acara di Los Angeles pada tahun 2009. Saat itu, Rihanna mengalami tindakan pemukulan, pencekikkan dan terdapat beberapa bekas gigitan pada tangannya karena diawali oleh pertengkaran ringan (huffingtonpost.com). Dalam beberapa pertengkaran sebelumnya, Rihanna juga sering mendapatkan perlakuan tersebut dari Chris Brown. Mereka telah berpacaran selama 1,5 tahun, hingga akhirnya Rihanna memutuskan untuk mengakhiri hubungan tersebut.

Kasus pertama dan kasus kedua sama-sama menunjukkan bahwa lama berpacaran kedua pasangan tersebut dapat tergolong lama, yaitu lebih dari satu tahun. Dari fakta tersebut timbullah sebuah pertanyaan di dalam kepala saya yaitu, “Apakah lama berpacaran dapat mempengaruhi tingkat agresivitas seseorang terhadap pasangannya?”. Jika saya mengacu pada kedua kasus tersebut, saya dapat mengambil thesis statement bahwa semakin lama seseorang berpacaran, semakin meningkat pula agresivitas orang tersebut dengan pasangannya.

Agresi yang muncul dalam hubungan berpacaran bisa muncul dalam berbagai bentuk. Dalam  Kuffel dan Katz (2002), agresi dalam hubungan berpacaran dapat dikategorikan menjadi physical violence, psychological abuse dan sexual coercion. Mendorong, memukul, menampar dan melempar benda-benda dapat dikategorikan dalam physical violence. Psychological abuse sendiri dapat berupa teriakkan, penghinaan serta pemberian nama atau panggilan-panggilan tertentu. Sedangkan sexual coercion adalah tindakan yang melibatkan pemaksaan terhadap pasangan yang tidak menginginkan aktivitas seksual dengan menggunakan kekerasan verbal maupun fisik (Katz, Carino & Hilton, 2002).

Tedapat banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan agresi dalam hubungan berpacaran. Sherer (2009), di dalam penelitiannya memasukkan cukup banyak variabel yang kemungkinan dapat mempengaruhi tindak kekerasan dalam suatu hubungan berpacaran, antara lain: karakteristik personal subjek (suku bangsa, gender, penggunaan alkohol, self-esteem, tingkat pendidikan, religiuitas keluarga), pengaruh peer group, dan dating relationships (lama dan/atau pentingnya hubungan tersebut). Variabel terakhir ini lah yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas karena masih cukup banyak diperdebatkan.

Jika kita jawab permasalahan ini menggunakan logika, pasangan yang baru menjalin suatu hubungan akan memiliki kemungkinan yang cukup kecil untuk terjadinya kekerasan di dalam hubungan tersebut. Pasangan baru tentu sedang menjalani suatu proses yaitu pengenalan. Pada fenomena sehari-hari yang saya lihat dan saya alami, seseorang yang sedang dalam proses pengenalan dengan pasangan barunya akan cenderung menampilkan sisi-sisi baiknya kepada pasangannya. Hal ini ditujukan agar pasangan tertarik untuk menjalin hubungan lebih lanjut dengannya dan agar pasangan tidak “lari” dari dirinya. Setelah pasangan sudah mengenal satu sama lain, biasanya akan lebih mudah bagi seseorang untuk berbuat sesuatu yang ia inginkan kepada pasangangannya tanpa merasa sungkan. Hal-hal tersebut termasuk pada tindakan-tindakan yang kadang menyakitkan bagi pasangan, seperti membentak atau memukul.

Selain itu, pasangan yang baru menjalani suatu hubungan biasanya belum memiliki konflik di dalam hubungannya.  Hal ini bisa jadi disebabkan karena perasaan cinta yang ditunjukkan kepada pasangan pun masih cenderung intens dan menggebu-gebu. Biasanya, pada pasangan yang sudah lama menjalin hubungan, akan timbul konflik-konflik yang dapat memancing emosi dan kemarahan masing-masing pasangan. Ketika emosi tersebut memuncak, maka tindakan agresif juga memiliki kemungkinan untuk muncul dan dilampiaskan kepada sang pasangan. Komitmen yang terjalin pada pasangan baru juga belum sedalam dan seserius pasangan yang sudah lama menjalin hubungan. Hal ini dikarenakan pasangan baru masih belum banyak membicarakan hal-hal yang lebih dalam mengenai hubungan yang mereka jalani. Jika sudah lebih sering membicarakan topik-topik yang berkaitan dengan hubungan, biasanya pasangan akan lebih sensitif dengan kondisi hubungan mereka.

Tidak hanya fenomena dan pengalaman sehari-hari yang dapat menjawab permasalahan ini. Terdapat beberapa jurnal yang menunjukkan hasil yang dapat mendukung thesis statement saya sebelumnya. Dalam Hammock dan O’Hearn (2002) disebutkan bahwa dimensi keseriusan dan lama berpacaran memiliki hubungan dengan tingkat agresivitas dalam berpacaran, walaupun terdapat aspek-aspek lain yang juga mempengaruhinya. Tingkat keseriusan dan lama berpacaran dapat mempengaruhi agresivitas dalam suatu hubungan karena berkaitan dengan waktu yang di habiskan bersama pasangan. Hubungan yang sudah lama, di mana pasangan sudah menghabiskan waktu cukup sering dengan yang lainnya, akan cenderung memunculkan agresivitas dibandingkan dengan pasangan yang baru atau pasangan yang jarang bertemu (Hammock & O’Hearn, 2002). Dengan kata lain, semakin sering seseorang berinteraksi dengan pasangannya, maka akan meningkat pula posibilitas munculnya konflik dalam suatu hubungan sehingga dapat juga memunculkan agresi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Shulman dan Scharf (2000, dalam Rivera, 2008) juga menyebutkan bahwa lamanya berpacaran meningkatkan komitmen dan kedekatan yang mungkin menyebabkan resiko munculnya agresi pada suatu hubungan. Hal ini sebagian besar terjadi pada laki-laki di mana ketika suatu hubungan telah memiliki komitmen, maka ia akan merasa dapat mengontrol pasangannya melalu kekerasan fisik dengan tujuan untuk menunjukkan dominansinya (Sherer, 2009).

Namun ternyata, ada pula penelitian yang tidak menemukan adanya pengaruh dari lama berpacaran dengan agresivitas terhadap pasangan. Penelitian Smith (2010) terhadap siswa-siswi African-American pada dua sekolah menengah awal yang masing-masing memiliki 700 siswa menunjukkan tidak adanya hubungan antara lamanya berpacaran dengan kekerasan dalam hubungan berpacaran. Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh Sherer (2009) pada remaja Arab. Akan tetapi sampel yang digunakan untuk kedua penelitian ini merupakan remaja pada usia sekolah menengah awal yang sebagian besar belum pernah menjalani hubungan berpacaran yang lama. Hal ini tidak dapat dibandingkan dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang lebih banyak menggunakan sampel dengan usia sekolah menengah atas dan mahasiswa yang sebagian besar sudah lebih serius dalam menjalani suatu hubungan berpacaran sehingga lamanya hubungan tersebut juga cenderung panjang.

Dari pemaparan di atas, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa benar, semakin lama seseorang berpacaran, maka akan semakin meningkat pula tingkat agresivitas orang tersebut kepada pasangannya. Tingkat agresivitas tersebut dapat dilihat dari perilaku agresif, baik secara fisik, psikologis maupun kekerasan seksual yang ditujukan kepada pasangannya. Fenomena ini pun sudah sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari bahkan telah dibuktikan kebenarannya melalui beberapa penelitian mengenai kekerasan terhadap hubungan berpacaran.

DAFTAR PUSTAKA

Hammock, G. dan O’Hearn, R. (2002). “Psychological Aggression in Dating Relationships: Predictive Models for Males and Females.” Violence and Victims, 17 (5), hlm. 525 – 540.

Huff Post Entertainment. (2009). “Rihanna Bloodied, Beaten, Bitten By Chris Brown”. http://www.huffingtonpost.com/2009/02/09/rihanna-bloodied-beaten-b_n_165474.html (diunduh pada 14 Desember 2011).

Katz, J., Carino, A., dan Hilton, A. (2002). “Perceived Verbal Conflict Behaviors Associated With Physical Aggression and Sexual Coercion in Dating Relationships: A Gender-Sensitive Analysis.” Violence and Victims, 17 (1), hlm. 93 – 109.

Kuffel, S.W. dan Katz, J. (2002). “Preventing Physical, Psychological, and Sexual Aggression in College Dating Relationships.” Journal of Primary Prevention, 22 (4), hlm. 361 – 374.

Rivera, M.S. (2008). “Evaluating Social Learning Theory of Dating Aggression: The Role of Relational Aggression.” Tesis. Tersedia pada Proquest Dissertation and Thesis (PDQT).

Saputra, A. (2011). “Kekerasan dalam Berpacaran: Sambil Menahan Tangis, Leni Baca Pledoi.”  http://www.detiknews.com/read/2011/08/16/000132/1704357/10/sambil-menahan-tangis-leni-baca-pledoi (diunduh pada 14 Desember 2011).

Sherer, M. (2009). “The Nature and Correlates of Dating Violence among Jewish and Arab Youths in Israel.” J Fam Viol, 24, hlm. 11 – 26.

Smith, M. (2010). “How Age of First Dating Experience, Number of Dating Partners, and Length of Relationship Relates to Dating Violence Victimization.” Tesis. Tersedia pada Proquest Dissertation and Thesis (PDQT).

sepi

Posted on

angin bertiup

syuuu~

aku tumbang

semut-semut datang

kamu pergi

syuuu~

seribu kecup

Posted on

seribu kecup untukmu, untuk apa
jika nanti kamu pergi, kamu pergi

hatiku rapuh, hancur dalam sedetik
jika nanti kamu pergi, kamu pergi

dalam tangisan nafasku berkata
janganlah kamu pergi, kamu pergi

simpul janjimu lantas terikat
“tak akanlah aku pergi, takkan pergi”

bahagia, tangisku terhenti

seribu kecup
aku takut kamu pergi, kamu pergi

Bandung, 7 Mei 2011

colored

Posted on

dulu aku kira anganku terlalu jauh, terutama anganku tentang kamu. aku pikir kamu tak tersentuh. aku ini transparan, bening, tak terlihat jika kamu memandangku sekilas. ulurkan tanganmu dan rasakanlah, setelahnya kamu dapat tahu aku ada.

mungkin aku yang tidak peka, awalnya aku mengutuk-ngutuk mengapa kamu tidak sadar di sini aku berdiri. sekuat tenaga ku tahan nafasku agar wajahku memerah, syukur-syukur tidak membiru. aku ingin kamu melihat warnaku. aku mau berwarna, tidak bening, sehingga kamu sadar ada aku di manapun kamu berjalan.

hampir mati rasanya aku menahan nafas, tapi untung kamu berjalan ke arahku. ku hirup udara yang panjang, ku lepaskan lagi. kamu datang dan dengan gampangnya berkata, aku tahu ada kamu tak usahlah begitu aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menghampirimu. kalimat itu menamparku sekaligus membuatku lega.

haruskah ku ulangi kalimat pertama? dulu aku kira anganku terlalu jauh. itu dulu, tidak sekarang. kamu dan aku berjalan berdampingan. kamu selalu tau aku berwarna. begitu pula aku begitu mengerti warnamu.  masih perlukah aku mengutuk-ngutuk kamu? masih haruskah aku menahan nafas agar menjaga diriku agar tidak kehilangan warnanya? semua itu aku tahu, tidak perlu. benar-benar tidak perlu, asal kamu terus mengeratkan genggamanmu pada tanganku, membuatku yakin aku tidak lagi transparan di matamu apalagi semu.

sebelum aku muak

Posted on

boleh aku lelah?

sebuah perjalanan

Posted on

aku berada di depan gerbang. gerbang besar yang terbuat dari baja. tinggi sekali. sepertinya ada sesuatu yang tak biasa di dalamnya. sesuatu yang mungkin aku takuti dan tak sanggup melewatinya.

aku menelan ludah. teringat perjalananku kemarin sebelum aku sampai tempat ini. jauh dan berliku. sempat aku mengutuk perjalananku, sempat aku bosan, sempat aku ingin menyerah karena medannya. tapi banyak pula hal menarik yang aku temui. banyak sekali sehingga aku sulit mengingatnya.

tapi tetap saja aku tidak dapat lupa. aku ingat saat pertama aku disiapkan untuk menghadapi perjalanan panjang ini. dengan sekelompok manusia yang juga akan menempuh perjalanannya masing-masing.

sekelompok manusia yang kelak akan menjadi bagian terpenting dari perjalanan ini. kami dibekali bekal yang sama dengan jumlah yang sama. namun hanya yang sungguh-sungguh dan mujur lah yang dapat menempuh perjalanan dengan akhir yang dapat mengobati semua perih. perih yang merupakan konsekuensi atas perjalanan ini.

sekelompok manusia itu aku rindu. perjalanan panjang telah membuat kami semakin erat. seperti ada yang mengikat hati kami. mungkin itu yang dinamakan kebersamaan.

banyak yang aku lalui bersama mereka. terlampau banyak hingga aku tidak rela mengakhiri perjalanan ini. ya, gerbang yang sedang kulihat ini sementara adalah akhir dari perjalananku. setiap dari kami akan menemui gerbang yang berbeda, walaupun yang dilalui adalah sama. dan apa yang ada di balik gerbang masing-masing adalah berbeda. takdir yang menentukannya.

aku memejamkan mataku. meyakinkan hati dan pikiranku bahwa aku siap membuka gerbang di depanku. semburat memori memenuhi otakku. seluruh perjalanan beserta atribut yang melengkapinya membuat aku tetap ingin tinggal di tempat aku kini berpijak. namun aku yakin, apa yang akan aku temui nanti adalah takdirku. takdir yang harus dilalui. takdir yang membuat aku harus tetap berjalan.

aku menghela nafas, memantapkan hati. aku relakan seluruh jejak perjalanan. jejak dari segala jejak. jejak yang hilang maupun berbekas. aku ikhlaskan seluruh memori, sambil berjanji tidak akan melupakannya.

aku buka gerbang di depanku, dan inilah perjalananku selanjutnya.

aku siap.

untuk SMAN 3 Bandung 2010

Situ Patenggang, 12 Juli 2010

Posted on

“gimana kalau….kita pacaran aja?”

2010

Posted on

2010

satu permintaan

Posted on

hai orang yang udah bikin saya terbang sejauh ini, saya harap kamu ga bakal bikin saya jatuh sampe saya ga kuat nahan sakitnya ya :)

just you and me – zee avi

Posted on

you were sitting at the coffee table
where you’re reading Kierkegaard
minutes later, you proceeded to said
something that almost broke my heart

you said, “Darling, i’m tired of livin’ my routined life.
there’s so much in the world that i like to soak up with my eyes.”
well, baby i never did stop you from going out to explore
we can do it all together from colds of the poles to the tropics of Borneo.

let’s pack our bags
and lay on the easy stream
feel the water on our backs
where we can carry on dreamin’
where we can finally
be where we’d like to be
darlin’, just you and me
just you and me

so darlin’, what do you say?
does that sound like a plan to you?
we can build our own little world
where no one else can come through
we can live in huts made out of grass
we can greet father time as he walks pass
we can press our feet into the dirt,
a little mud, no, it wouldn’t hurt

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.