“pada mula segala telah dosa
dan dosa pada bumi
lalu manusia pergi
meninggalkan firdaus
mencari cinta“– sitor situmorang, 1953
that i feel comfy and i always happy with you, bud :)
dag!
ah percakapan kita lebih dari lima ratus hari yang lalu membuka satu laci di otakku
dig!
ah wajah itu sangat persis dengan wajahmu, membuka satu laci lagi di otakku
dug!
ah kenangan-kenangan itu keluar dari laci-laci yang tadinya sudah hampir tak pernah aku buka lagi, membuka satu laci lagi
di hatiku
ada rahasia di balik kelambu-kelambu itu
walaupun aku dan kamu tak pernah merahasiakannya
mereka menyulam dirinya sendiri lalu berbisik
kami lah rahasia
aku dan kamu berjalan tanpa bicara
dan sadar seorang asing sedang mengikuti kita
namun kamu tak peringatkan aku, begitu pula aku
kita diam lalu bergumam, “cepat pergi kau orang asing!”
aku tahu kamu tahu
aku rasa kamu pun tahu
tapi kembali diam dan diam
hanya saling melirik dan berjaga
bagaimana nasib kelambu?
apakah nasib rahasia dalam kelambu?
aku ingin tahu, dan kau pun begitu
dan tanpa sengaja kita menoleh bersamaan
terkejut aku, begitu pun kamu
kelambu tersingkap setiap ada yang melewatinya
mengungkap semua rahasia
bukan rahasia kita, namun itu tentang kita
kelambu pendusta diam kau segera!
aku tahu
tapi tak mengerti
karena kakak tak bilang
tak menjelaskan padaku
aku sadar
tapi tak mengerti
kak, tolong aku lelah
lelah berpikir harus bagaimana
aku jujur
aku tak mengerti
silakan lah kakak saja yang maju
dan jelaskan tentang tugas ibu guru
aku diam
karena tak mengerti
lama-lama pecah pula tangisku
tapi ah, aku tak mau
tolong lah kak, selamatkan aku
ini kan juga ulahmu
aku salah apa kak, hingga begini
ah kalau kakak diam, aku bagaimana?
bicaralah kak, bicara padaku saja sudah cukup
biar nanti aku yang maju dan bicara semuanya
setidaknya aku jadi mengerti
mengerti yang kau maksud
dan setidaknya aku sedikit tenang
aku
mati
kamu
hidup
aku
hidup
kamu
mati
hidup
aku
mati
kamu
hidup
kamu
mati
aku
kamu
aku
hidup
mati
aku
kamu
mati
hidup
kampus kuning, jaket kuning, dan bis kuning… aku mau menghabiskan 4 tahun kedepan bareng kalian dong :)
ternyata ada respon juga dari postingan untukmu, duniaku.
dan komentar pertama itu datang dari orang yang ga disangka-sangka dan waktu yang ga diduga-duga. yaitu, bokap gue!
gue : (salim, pamit mau pergi ke ultah si biwir)
bokap : ‘tatap mataku, dong!’
gue : ‘hah?!’
bokap : ‘iya, tatap mataku!’
gue : (menatap mata bokap gue dan mikir kenapa nih si babeh?)
bokap : (bales mandang sambil ketawa setan)
gue : (baru sadar nulis postingan yang di-publish di notes facebook juga) ‘hah, ko ayah tau siiiiiiih?
bokap : ‘lagian kamu norak. curhat ko dipajang di facebook?’
gue : ‘hah, ayah baca? hahahaha tapi bagus kan?’
bokap : ‘yaiyalah semua orang juga pasti bisa baca.’
gue : (geleng-geleng kepala)
bokap : (ngomong ke nyokap) ‘makanya ma, sekarang kalo ngomong sama laras, tatap matanya. karena dia sering ga bilang perasaan yang sebenernya tapi perasaan itu disampaikan lewat mata!’
gue : (bengong aja sambil ngeloyor pergi)
dan gue pun menceritakan kejadian itu kepada teman sepermainan gue, khobbab. dan akhirnya dia jadi suka ngomentarin setiap gue senyum-senyum atau ketawa -,-
khobbab : (ngelucu rada garing gitu)
gue : ‘hahahahahahahaha’
khobbab : (ngeliat mata gue) ‘wooo, senyum lu palsu!’
gue : ‘ya udah, gue ga usah senyum sekalian aja deh kalo gitu!’
khobbab : (ngelucu lagi)
gue : ‘hmmmmm’ :|
khobbab : ‘hmm ge, kayanya lebih enak ngeliat lu senyum deh walaupun itu senyum palsu haha!’
gue : ‘hahahahahaha :)) iye, gue senyum!’
dan setelah dua kejadian itu sekarang gue berpikir dua kali buat nyembunyiin perasaan gua yang sebenernya. dan kayanya, gua bakal selalu senyum. engga, ga palsu koooo :)
senyumku kadang menutupi sendu di mataku
tapi mataku selalu bicara kepada mereka yang benar-benar memandangnya
tak dapatlah aku melulu terpejam untuk menutupinya
aku takut gelap, takut
tapi aku tak mau dunia mengetahui senyumku sering kali palsu
aku tak mau dunia melihatku bersedih
aku ingin dunia tertawa lepas, tak usahlah mengkhawatirkan aku
aku tak mau dunia mengasihani aku
aku ingin dunia tetap bebas berjalan, melewati setiap menit-menitnya
aku tak mau merepotkan dunia
dunia itu milik semua, biarlah ia tetap bersama mereka
mereka yang butuh dunia yang besar dan baik
dunia yang memberikan berbagai macam kesenangan
dunia yang mengobati luka-luka mereka
dengan senyuman yang tulus, bukannya palsu
duniaku, aku sudah cukup dewasa untuk kau lepas
hampiri saja mereka yang kecil dan rapuh itu
tanpamu duniaku, mungkin senyumku tak lagi palsu
karena senyum-senyum itu dapat kau lihat di wajah berbinar mereka
ya, mereka yang butuh kamu
hai embun pagi di ujung daun semanggi!
temui aku, genangan air bekas hujan kemarin malam
segeralah menetes, buat riak dan menyatu denganku
atau dapatkah kita bertemu nanti di awan, menjadi butiran uap air?
lalu kita jatuh kembali sebagai hujan
dan teruslah begitu
jangan kau mengalir berlawanan arah
ah, aku tak mau berpisah
